Feed on
Posts
comments

Resolusi 2009

Alhamdulillah masih diberikan Alloh SWT kesempatan untuk memasuki tahun baru 2009–tahun baru biasanya saya isi dengan meruntun delapan target saya tahun itu (delapan adalah angka istimewa buat saya). Saya nggak ingin terjebak ke dalam diskusi kusut mengenai kapan sebaiknya membuat resolusi (buat saya tahun baru Islam okay, Masehi fine, ultah go ahead), yang terpenting buat saya adalah esensi resolusi itu sendiri. The matter of time is just unessential for me.

Mencantumkan resolusi di blog adalah hal baru buat saya, tapi worth to try to challenge diri saya sampai seberapa besar diri ini mampu mempertanggungjawabkan apa yang sudah diucapkan oleh mulut saya. Man valued by his words!

#1: Melanjutkan (kembali) kuliah S1

Jangan ditanya sejarahnya Kawan, intinya saya sudah kehilangan track record saya di program ekstensi UI. Alhasil saya mesti mengulangnya dari awal atau mencari PT swasta. Akan tetapi ini adalah ultimate resolution saya sampai usia saya beranjak ke kepala 3, menyelesaikan pendidikan sarjana saya!

#2: Membeli motor

Ada semacam tarikan untuk membeli motor agar saya pun bisa melakukan hobi-hobi saya yang lain seperti travelling dan fotografi, but somehow it’s still unachieved. Well, karna fotografi sudah termaktub ke dalam resolusi di bawah, dengan senang hati saya akan menyisihkan penghasilan saya untuk mencicilnya.

#3: Menentukan rumah masa depan

Stop playing around! I’m old enough to think about my home sweet home. Udah bukan masanya lagi saya tinggal di kos-kosan atau membeli makan di warteg or restoran. Yang pasti karna rumah adalah titik sentral kehidupan saya, it needs bunches of time to consider the area (south must be!)

#4: Menonton konser musik

Sound teenager? Childish? Dont care actually. Pokoknya saya cuman pengen ngerasain sensasi crowdednya konser. Mengenai siapa artisnya, let see who’s lucky to get my future ticket.

#5: Mendaki gunung

Ini pilihan berat! Bukan karna saya tidak punya keyakinan mampu melakukannya, tapi menemukan orang-orang yang bisa dampingi sisi adventure saya itu yang sulit! But hell, create new network! Finding the ways!

#6: Memulai serius hobi fotografi

Phew, saya baru punya temen nih yang mau ngehunting tempat-tempat buat foto. Gonna be great to get new collection of wonderful scene BY MYSELF. Canon A590 sebagai langkah awalnya.

#7: Menstop mengeluh!

Ini sudah dimulai sejak tahun lalu, dan alhamdulillah saya pikir saya banyak memperbaiki diri untuk resolusi ini. Tapi karna untuk tahun depan ada bos baru yang belum tentu chemistry itu didapat, saya mesti menekankan kembali this continous annual resolution.

#8: Menghafal Juz 30

Analisa sebuah situs menyemangati saya untuk menghafal juz 30 Al Quran. Apabila kita menghafal satu ayat dalam satu hari, maka kita akan mampu menghafal juz ini dalam waktu 6 bulan 10 hari. Mosok lagu duniawi aja sudah hafal beratus-ratus lagu, tapi untuk akhirat hafalan surat saja tidak melebihi jari tangan. Malu saya, Kawan!

Making My Boss Happy

Berapa banyak di antara kita yang membenci boss kita? Hampir di mana-mana saya mendengar, membaca dan memperhatikan keluh kesah, kemarahan terpendam, bahkan umpatan seorang anak buah kepada atasannya. Pernahkah mereka membicarakannya secara terbuka kepada atasannya tersebut?

Mr.Sin Sung Youl, adalah orang yang saya anggap interface penyelamat karir saya untuk back on to the right track karna saya sudah hampir tersesat di path karir yang lain. Ingatan saya melayang di bulan Juni 2007 ketika saya sedang kalut-kalutnya mencari pekerjaan (sebagai guru part time atau trainer is a high risk job, men!), panggilan kerja untuk menjadi BTS Engineer di perusahaan saya sekarang saya terima dengan (sangat) antusias.

Somehow, ketika interview dia hanya menjelaskan job desc pekerjaan saya dan langsung dinyatakan diterima. Dengan catatan, saya dipindahkan ke departemen Microwave karna track record pekerjaan saya di Samsung Electronics mendukung pekerjaan tersebut yang memang memerlukan keterampilan berkomunikasi, penguasaan koordinasi, dan pengaturan perencanaan yang rasional.

Beliau bukanlah pribadi yang disukai oleh semua orang di kantor (untuk tidak mengatakan dibenci :-)), sudah cukup kenyang saya mendengar cerita keburukan dia ketika baru masuk. Selidik punya selidik, saya berpikir permasalahannya adalah tidak banyak orang yang mencoba melihat dari sudut pandang dia. Setelah beberapa kali adaptasi (baca: big fight) dengan dia, it grows to be the same emotional bonding. Dia butuh saya untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan baik dan saya butuh dia untuk dilindungi karna posisi saya yang insecure (departemen saya selalu menjadi kambing hitam akan banyak trouble di lapangan hiks hiks).

Saya pernah memiliki beberapa bos sebelum dia: Pak Hardiyanto as Senior Manager Purchasing di SEIN, Kim Dae Hwan as Advisor Purchasing di SEIN,  dan Mba Tutut as Manager Purchasing di Tyco. Semua bos memiliki sisi kekuatan yang outstanding buat saya. Pak Hardi jago di motivasi, Mr.Kim hebat di kontrol, Mba Tutut kuat di social-chain, maka bos saya yang satu ini punya kekuatan at how he make his staffs feel secure.

Secara pekerjaan saya tidak pernah mengharapkan sesuatu yang lebih dari dia (membimbing saya, mentraining saya - it’s such totally dreams!), saya sudah terbiasa dengan budaya Samsung yang cenderung ‘learning by doing’, maka tidak ada kekecewaan yang mendalam terhadap kinerja beliau selama tepat satu setengah tahun membawahi saya.

Anyway, hari ini, jam 9 malam beliau akan pulang ke Korea. Tadinya kita ingin mengadakan farewell party yang akhirnya berantakan karna kesibukan persiapan pulang beliau, so kita-kita pun berinisiatif untuk memberikan hadiah perpisahan. Pilihan jatuh ke karikatur karna saya pikir hadiah ini akan memorable dalam jangka waktu yang sangat lama. Alhasil inilah hasil karikatur bersama beliau.

Tau apa reaksi beliau, Kawan? Terbahak-bahak! Itu kali pertama saya melihat dia tertawa geli, segeli-gelinya, melihat ekspresi di karikatur tersebut. Dan dengan bangganya dia perlihatkan ke kolega Korea yang lain, yang selalu diakhiri dengan bahakan-bahakan tertawa dari mereka. How do we feel? Relieve!, akhirnya bisa memberikan kebahagiaan terakhir buat dia.

Gambar-gambar selengkapnya bisa dilihat di Flickr saya: http://www.flickr.com/photos/31300041@N04/

Satu pelajaran yang bisa saya petik dari hubungan pekerjaan yang saya alami bersama beliau: Jangan terlalu banyak berharap bahwa bos akan mengerti segala keinginan dan harapan stafnya! Yang perlu kita lakukan adalah open discussion with them. Jika perlu adu argumen sampai emosi, let it be! karna kalau di ujung discussion ada kata sepemahaman tentang masalah tersebut, ikatan emosi itu akan tercipta sedemikian rupa sehingga pasti dengan sendirinya akan membuat hubungan emosi kita akan lebih mudah untuk saling memahami.

Satu petikan kalimat instan pun tercipta untuk persaudaraan dengannya:

Working bond is limited; Brotherhood is limitless

Good bye, Pak Sin! We wish you all the best!

Theme Song Hari Ini

Suatu hari saya pernah berniat seru juga kali ya kalau saya buat theme song untuk menggambarkan sebuah lagu yang dapat mewakilkan perasaan saya saat itu juga (whatever the condition is) untuk kemudian dituangkan ke status YM saya, sehingga teman-teman di YM pun bisa menebak mood saya saat itu.

Alhasil setelah up and down menjabarkan niatan semula, saya berhasil merampungkan lima buah lagu yang berturut-turut saya pilih di pekan terakhir November kemarin.


As many people out there, I never like Monday. Kondisi pasca liburan pasti penuh dengan kelelahan, tidur kurang, dan jetlag antara kondisi di mana kita bebas melakukan sesuatu dengan kondisi kita dipaksa untuk melakukan sesuatu. Pilihan saya tentu adalah sebuah lagu yang bener-bener nge-beat. Dan terpilihlah lagu The Bitter End, yang menurut saya pribadi master piece-nya Placebo. Masih ingat dengan video klip yang mengambil tempat di Lovel Tellescope, salah satu teleskop radio terbesar di dunia di mana setengah waktu klip ditampilkan dalam tampilan infra-merah. Ciamik!

Hal yang membuat saya paling suka dengan The Bitter End tentu betotan gitar dan dentuman drum yang sangat dinamis. Hampir di sepanjang lagu saya nggak pernah bisa menggoyangkan kaki mengikuti beatnya. Buat temen yang nggak suka suasana Senin di kantor, bisa coba dengerin lagunya. Well recommended ;-)


Selasa biasanya saya mulai disibukkan dengan beberapa file excel di laptop dan telepon lintas departemen di perusahaan saya. Di hari ini biasanya saya sudah tune untuk full concentrate (membuat draft target, meng-arrange plan, dan meng-eksekusi keputusan manager). So, lagu beat tapi minimalisnya Third Eye Blind lah yang saya pilih. Bukan karna lirik lagunya sebenernya, tapi lagu inilah yang pertama kalinya saya dengar sampai saya bisa mencintai aliran brit pop. How It’s Gonna Be!

Lagu ini pernah jadi temen perjalanan waktu saya sama sohib saya jalan-jalan ke Puncak Pass (yeap, biasa ngomongin patah hati enaknya di tempat itu hiks hiks…). Kalo denger lagu ini perasaan saya pasti tenaaang banget. Entah karna lirik lagunya yang dalam, aliran musiknya yang pelan, atau sebenernya karna saya penggemar film Jerry McGuire? Mungkin ketiga-tiganya. Kutipan sedikit liriknya jelas menggambarkan betapa bisa indahnya sebentuk cinta.

She’ll let you in her house
If you come knockin’ late at night
She’ll let you in her mouth
If the words you say are right

O iya di lagu ini kita seperti disuguhkan sebuah cerita bagaimana untuk membuat keputusan mencinta, dan bagaimana menjabarkannya dengan kata-kata kepada orang yang dicinta hiks…


Jaman-jamannya saya kuliah di Jurangmangu, teman saya menyodorkan album Pablo Honey kepada saya yang ditanggapi dengan tarikan alis ke atas saya. Well, saya nggak tau lagu-lagu barat saat itu, apalagi artis di kaset itu! Radiohead. “Coba dengerin deh” yakinnya. Alhasil saya pun dengerin album itu dan mulai tersedot mengikuti gumaman Thom Yorke di Fake Plastic Trees sampai lagu master piecenya band ini, Creep. Hmm yummy!

Kenapa milih lagu ini, jelas karna liriknya. Gak perlu ragu lah untuk jadi beda kalau memang itu diri kita sendiri, terlepas dari baik atau buruk (ingat saja bahwa dasar manusia itu baik). Dan menyanyikan lagu ini pas karaokean dari suara yang tertahan-tahan di intro sampai akhirnya meledak total di refrain pasti rasanya tuh plong banget!


Saya termasuk fans beratnya Robbie Williams. Suara yang berkarakter, gaya yang kontroversial, dan arogansi yang tetap terkontrol (entah yang terakhir ini benar atau tidak hiks…) menjadikan sosok artis satu ini diterima di hampir seluruh bagian dunia—tapi sukar baginya menaklukkan Amerika yang notabene dikuasai black music.

Kalau disuruh memilih lagu-lagunya yang bisa membawakan suasana hati saya pun gampang-gampang saja: Supreme buat membangun kepercayaan diri, Let Love Be Your Energy buat semangat kalau cinta bisa bikin energi tambahan hidup, Eternity buat yang lagi lonely, Betterman buat lelaki yang desperado pengen ditemukan pujaan hatinya. Tapi yang paling spesial buat saya: Angels. Benar bagi kebanyakan orang bahwa lagu ini master piece-nya Kang Robbie, karna dari sisi lirik (paling dahsyat!), video klip (keren!), kualitas suara (mantab!), dan komposisi lagu yang OK membuat saya selalu memasukkan lagu ini ke dalam list lagu pas karaokean ;-)

Yang pasti sih, kegiatan memilih theme song ini cukup menggelitik kreativitas dan kejujuran kita to show others what our feelin right here, right now.

10 My Heart-felt Moments

1991 : Almost-losing my beloved Mam

Periode tersulit dalam kehidupan keluarga saya terjadi ketika Bapak saya mengalami kebangkrutan (entah yang keberapa kali) dari usahanya di Senen. Hal ini menyebabkan anak-anaknya terjun langsung membantu keuangan keluarga. Pengorbanan terbesar dilakukan oleh kakak perempuan saya yang terpaksa berhenti dari SMP Negeri 5 Bekasi. Sedangkan para lelakinya berjuang menjadi pedagang asongan di perempatan Pemda Bekasi. A’ Dedi yang menjual rokok dan saya sendiri memilih berjualan minuman penghangat tenggorokan para pengendara seperti es teh manis sewaktu siang dan kopi/jahe/susu ketika matahari telah terbenam.

During this time, kami sekeluarga tinggal di sebuah kontrakan. Ibu saya, yang saya panggil ema’, sedang mengandung anak ke-5 yang sebetulnya tidak direncanakan oleh orang tua saya. Kondisi rumah yang aerasinya tidak baik menyebabkan ibu sempat berhenti bernafas selama kurang lebih 5 menit. Ketika kami sekeluarga panik dan meminta bantuan tetangga, seorang Bapak waktu itu langsung menyibakkan kelambu yang membungkus tempat tidur dan meminta dibuatkan susu hangat. Ajaib, setelah berhenti bernafas 5 menit, Ibu pun kemudian batuk sambil bergumam, “Ada apa?” Damn! Saat itu saya tidak dapat menggambarkan betapa kalutnya peluang untuk kehilangan manusia yang bahkan Muhammad SAW menyebut sampai tiga kali ketika ditanya siapa orang yang paling beliau hormati.

1992 : Making my Dad cried

Jika ada momen ketika ayah saya yang biasanya sangat tegar menjadi lemah tak berdaya adalah ketika usaha beliau hancur lebur (entah karna apa). Beliau benar-benar diuji sampai suatu saat pernah menjadi seorang kuli bangunan. I’d take a hat off to you, Dad!

Di tahun ini saya merasakan arti kegagalan (pertama) saya. Saya hanya bisa bersekolah di SMP swasta yang jelas tidak ada pikirannya di benak saya. Saat pendaftaran sekolah pun, Bapak sudah pontang-panting mencari pinjaman hingga saat guru olahraga mewajibkan siswa baru berpakaian olahraga. Ketika saatnya tiba, saya memaksa Bapak untuk membelikan baju itu saat itu juga, yang tentu tidak dapat disediakan olehnya. Tekanan ekonomi yang begitu besar dan tidak pengertian yang datang dari anaknya sampai menyebabkan beliau menangis. Damn Dad! If I could turn back time, I wont EVER do that to you.

June 1996 : Seeing Ricky/Rexy got Gold Medals in Olympic

Badminton selalu menjadi olahraga yang paling saya kuasai. Ada semacam natural insting untuk men-smash, mendrive, dan selalu menyenangkan ketika kita bisa membuat lawan main kita pontang-panting mengejar shuttle cock (tentu menjengkelkan jikalau kebalikannya).

Pemain badminton kesayangan saya pun tidak terhitung, tapi kalau diharuskan memilih saya akan memilih Susi Susanti karna endurance-nya, Hendrawan karna unpredictable placement, dan still our favorite athlete now, Taufik Hidayat karna best backhand smash he has ever.

Pertandingan badminton yang ditayangkan oleh teve pun jarang yang saya lewatkan. Saya pernah menjadi saksi bisu ketangguhan seorang Susi merebut emas di Barcelona, tapi saat paling mendebarkan dan mengharukan adalah ketika ganda putra terbaik Indonesia, Ricky Subagja/Rexy Mainaky merebut emas setelah mengandaskan pasangan Malaysia, Cheah Soon Kit/Yap Kim Hock. Saat ketika kita ketinggalan di set ketiga, 10-12 untuk kemudian bangkit dan memenangkan pertarungan dengan 15-12 sangat mendebarkan, mengharukan, membanggakan bagi seluruh rakyat Indonesia. Tidak heran sampai sekarang duo ganda ini masih sering menjadi ikon partnership ganda putra di Indonesia.

July 1998 : Crying as hearing nasyid Ibu (Suara Persaudaraan)

Perjalanan jenjang sekolah saya membawa saya ke suatu kampus mungkin masih menjadi kampus paling memorable bagi saya pribadi, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN).

Kejadian mengharukan bagi saya (dan saya yakin hampir semua mahasiswa angkatan 1998 mengalami hal yang sama) adalah ketika Ospek. Tidak, ospek di kampus STAN sangat manusiawi dan menjunjung aspek intelektualitas calon mahasiswa. Menjeda kegiatan di pagi hari dengan sore hari, panitia memberikan dakwah islam dengan cerita-cerita islam yang akan diakhiri dengan langgam Nasyid. Saat itu nasyid lah belum populer (Raihan pun baru merecord album pertama, Puji-Pujian). Sewaktu panitia menyanyikan nasyid Ibu milik Suara Persaudaraan, semua calon mahasiswa saat itu banjir oleh air mata.

Ibarat sinar mentari
Begitulah kasih ibu
Sepanjang zaman tak akan terbalas
Teruntai begitu indahnya

Diusia yang telah senja
Kau berkenan memanggilnya
Aku rela dlaam ridhoMu
Tawakalku padaMu

Kasihilah dia disana
Di dalam kesendiriannya
Lapangkanlah alam kuburnya
Terangilah dengan cahyamu

Duhai Robbi ampunkan dia
Sejahterakan dengan nikmatmu
Yang tak pudar ditelan masa
Ijinkanlah kami meminta

Saat itu kenangan ketika Ibu hampir terenggut nyawanya kembali membayang dan satu janji saya saat itu, ingin membahagiakan beliau.

December 2003 : Making my parents cried

Pada saat saya menyelesaikan kuliah saya di Kampus Politeknik Negeri Jakarta, tidak pernah terlintas bahwa saya akan digadang-gadang sebagai Mahasiswa Terbaik Jurusan di departemen saya (Teknik Elektro). Membanggakan? Tentu saja karena saya dan Budiyono (sahabat saya) berhasil mengalahkan peringkat terbaik di dua program studi lain. Kami mendapat privelese dengan duduk di depan semua mahasiswa dan tidak harus mengantri untuk acara pengesahan oleh Rektor saat itu.

Waktu itu Ibu dan Bapak berada di selasar kanan Balairung UI dan langsung menangis melihat keberhasilan seorang anaknya menjadi salah seorang mahasiswa terbaik. Saya waktu itu tidak tau kejadian itu, tapi ketika acara selesai dan Ibu bergegas menghampiri dan menciumi saya, saya bisa melihat bekas air mata di wajahnya. Till now, it’s my greatest moment in my life.

Singapore Dreams 2008

Minggu lalu, saya ’memaksa’ diri saya sendiri untuk ikut dalam silaturahim perpisahan teman saya, Odi (yang sering saya panggil Odid untuk ngebedain dengan nickname nama saya sendiri). Keesokan harinya, dia akan berangkat bersama teman seangkatannya di Departemen Luar Negeri ke Singapura selama 3 bulan. Abroad man… what a great sense of adventure word for me.

Acara ini sebenarnya diadakan bersamaan dengan halal bihalal semua karyawan yang pernah berkecimpung di Purchasing Department, Samsung Electronics Indonesia. Sudah setahun rasanya saya tidak bertemu dengan sahabat-sahabat seperjuangan waktu itu - Ciput, Sevi, Sukma, dan Aal. Kita ambil tempat di Pizza Hut, Met Mall supaya mudah bagi semua orang untuk mencapainya (which means tetep aja sulit bagi orang yang tinggal di Depok macam saya ). Jam setengah tujuh tepat saya bisa tiba di lobi Met Mall-jelas memperbaiki catatan kesukaan saya untuk datang telat ke sebuah acara . Curhat lama dengan Ciput yang ternyata sudah pindah dua kali setelah mengalami kebosanan bekerja di Mattel: Danone dan Areva. Dan satu kutipan yang masih terngiang-ngiang di telinga saya sampai saat ini:

Bener kata lu Dod, ternyata gak enak banget punya bos cewek…

Hehehe… entah kenapa ketika ngedengerin Ciput bercerita, 100% plagiat dari cerita-cerita kegemesan gw atas bos gw waktu di Tyco. Tapi karna gw sangat kangen akan acara ’saling curhat’ jamannya di SEIN, ya gw pun antusias untuk diskusi ama dia (apa ngegosip yak hihihi). Sampai 15 menit kita ngobrol ngalor-ngidul, temen-temen pun berdatangan. Mula-mula wajah-wajah baru purchaser (yang terkesan malu kepada kami yang tua-tua ) sehingga acara pun lebih banyak terbelah menjadi dua kubu, yang tua dan yang muda hehe… Padahal saya ingin sekali bertukar cerita kepada penerus kerjaan saya (yang waktu di jaman saya menjadi satu posisi antik ). Tapi tak apa lah, toh yang menjadi benang merah pertemuan ini bukan saya, tapi Odid….

Hell… kemana Odid!

Gosh, ternyata ini anak masih di Pancoran saat semua pizza berdatangan (tapi jujur sepertinya ada yang salah dengan pemesanan pizzanya, karna sepertinya semua kurang berselera). Alhasil setelah acara-acara foto bersama (bagian dari kewajiban terpenting sebuah acara kumpul-kumpul… ow yeah!), kita pun ngobrol ngalur-ngidul nungguin yang punya acara. Ada Mema yang sudah mengandung anak keduanya (kangen curhat-curhatan error bareng die), Aal yang sekarang udah mesti ngurusin Purchasing Development, Sevi yang ngelahirin sebelum lebaran, dan gw yang tentu saja mendapat rentetan pertanyaan klasik ini:

Jadi kapan kawin?

Oh yeah, Sev. Kayaknya gw baru 27 taun deh, masih panjaaang perjalanan gw hehehe . Entar kalo gw dah punya satu perusahaan baru, rumah di Depok, sama satu vila di Puncak, I’ll invite you directly to SEIN! Promise!

Well, when finally Odi came out, everything’s already stale actually. Iya lah, makanannya udah abis, minuman tinggal gigit-gigit sedotan . Tapi seru juga nyaksiin hasil jepretan kameranya Demas karna Odi terlebih lebih putih, damn excited bout her life, but what the hell dengan muka elo Did, banyak jerawat . Masih inget saat-saat ketika dia curhat tentang seniornya, bosnya, temen-temennya (oke… oke… it means also my seniors , my boss , my friends ). All things payback ya Did! Satu hal yang bisa gw petik dari semuanya adalah bahwa gw kangen masa-masa susah di SEIN dan menjadi berkembang sedemikian indah (satu per satu kita mempunyai jalan sendiri-sendiri untuk mencapai mimpi-mimpi kita) are too gorgeous for me to miss it! Luv you all, guys!

Anyway, counting my journey companies till today: Samsung Electronics Indonesia, Tyco Fire and Security, British International Jakarta, BTA 70, Samsung Telecommunication Indonesia with consume one thousand-and-seven days after releasing from SEIN. What a number!

Sapardi Mencari Sunyi

Oleh: Ilham Khoiri

Sapardi Djoko Damono adalah penyair terkemuka Indonesia yang dikenal dengan puisi-puisi liris. Apakah rumah seniman ini juga bernuansa “liris”, sebagaimana karakter sastranya?

Sebenarnya tidak selalu ada kaitan langsung antara pilihan kesenian dan bentuk rumah seorang penyair. Namun, jika dirunut pelan-pelan, ternyata dua hal itu akhirnya bisa juga bersambungan. Setidaknya, dalam beberapa hal, rumah Sapardi cukup mendukung suasana “liris” itu. Bagaimana bisa? Coba tengok rumah Sapardi di Kompleks Perumahan Dosen Universitas Indonesia (UI) di kawasan Ciputat, Tangerang, Banten. Di sinilah penyair ini tinggal sehari-hari.

Pohon mangga besar menandai halaman depan rumah yang berada di bagian belakang kompleks perumahan dosen di dekat sempadan Setu Gintung itu. Tak ada perombakan radikal terhadap bangunan. Tampilannya masih mengikuti desain asli rumah dosen yang bersahaja di atas lahan seluas 400-an meter persegi. Luas bangunannya berapa, Pak? “Aduh, sebentar,” tukas Sapardi. Dia lantas menghitung petakan-petakan tegel putih sambil melongok ke sekitar. “Kira-kira 200-an meter persegilah.”

Sapardi semestinya cukup lelah, Rabu (19/3) malam itu. Kegiatannya seharian itu cukup padat. Pagi hari, dia mengajar di Universitas Diponegoro, Semarang. Dari sana, dia langsung terbang ke UI Depok, juga untuk memberi kuliah. Sore hari sampai maghrib, dia tampil lagi sebagai pembicara dalam diskusi sastra di Bentara Budaya Jakarta.

Meski capek, guru besar dan mantan Dekan Fakultas Sastra UI itu tetap bersemangat saat diajak ngobrol. Kebugaran yang dijaga baik-baik jelas menutupi usianya yang sudah 68 tahun. Oh ya, Kamis (20/3) lalu, dia baru baru berulang tahun. Sapardi lahir di Solo, 20 Maret 1940.

Bersahaja

Kembali ke soal rumah, “kelirisan” tempat tinggal Sapardi itu pertama-tama terasa dari kebersahajaannya. Suasana itu terbangun dari kelapangan dan kesederhanaan perabot. Hampir tidak ada barang mewah dan besar—apalagi yang berukir-ukir njelimet—yang menyesaki ruangan. Perabot yang hadir benar-benar fungsional, jauh dari kesan berhias-hias.

“Banyak barang bikin sumpek,” papar Sapardi. Ruang tamu diisi meja dan beberapa kursi. Satu-satunya benda yang mencolok dalam ruang tamu—yang tidak disekat sampai batas dinding belakang itu—adalah rak buku. Rak yang berdiri di belakang kursi tamu itu berukuran sekita 2,5 meter x 2,5 meter. Tumpukan berbagai buku di kotak-kotak kayu itu tampak menonjol.

Di depan rak, ada “bale-bale” kayu kecil yang dibuat seperti undakan yang meninggi sekitar 30 sentimeter di atas lantai dasar. Di atas hamparan papan yang dilapisi karpet kuning itu, Sapardi sering membaca buku, menulis, memeriksa hasil kerja mahasiswa, atau tiduran sekenanya. “Rak dan papan inilah salah satu tambahan penting dalam rumah ini,” katanya.

Selain ruang tamu, ada dua rak buku lagi, masing-masing diletakkan di kamar belakang dan di kamar santai di dekat kamar mandi. Kamar tidur Sapardi sendiri berada di bangian tengah, berukuran sekitar 3 meter x 4 meter. Ruangan ini dilengkapi meja kerja, meja hias bercermin, serta beberapa lemari pakaian.

“Semua ruangan di rumah ini jadi tempat kerja saya. Saya tak bisa kerja terus di satu tempat. Saya suka pindah-pindah waktu menulis, kadang di meja makan, kamar, atau di atas papan kayu. Itulah enaknya punya laptop,” katanya sambil tersenyum.

Biasanya, penyair itu bekerja sambil ditemani lantunan musik jazz yang dihidupkan dari laptop atau dari VCD player. Banyak jenis jazz yang disukainya, seperti Bob James, Chet Baker, A Coustic Alchemy, atau George Benson. Saat mau tidur pun, dia masih gemar mendengar jazz dari walkman.

Sunyi

Apa yang dicari Sapardi dari kebersahajaan rumah itu? “Ruang-ruang yang longgar membuat hati lega. Tetapi, yang paling penting saya memperoleh suasana tenang, sunyi,” katanya.

Sunyi yang diidamkan itu memang mengental dalam rumah tersebut. Pertama-tama, karena Sapardi tinggal sendirian di situ. Jadi, tidak ada suara anak-anak atau keriuhan rumah tangga sehari-hari. Hanya sesekali, sahabat datang bertandang.

Kedua, dia sangat menjaga suasana itu. Bahkan, demi ketenangan, dia tidak memasang televisi dan tak langganan koran. “Televisi itu mengganggu, siksaan. Bunyinya tak bisa dihindari, menguber kita terus. Sementara berita di koran kan umumnya buruk-buruk, hanya bikin marah saja!”

Kesendirian itu bukan tanpa risiko. Pernah, tahun 1998, setelah tiga tahun tinggal sendirian di rumah itu, Sapardi jatuh sakit. “Jantung saya rasanya ‘duk, duk, duk’. Saya panggil taksi untuk mengantar ke dokter. Akhirnya saya dirawat tiga hari di rumah sakit,” katanya.

Namun, setelah sembuh, dan lewat beberapa tahun kemudian, Sapardi tak kapok untuk kembali mencari sunyi dengan menyendiri ke rumah ini.

Lalu, apa sejatinya makna kesunyian bagi penyair ini? “Sunyi itu menyentuh. Dalam sunyi, saya bisa dengarkan bunyi-bunyi yang paling lembut, termasuk bunyi dari tubuh sendiri,” katanya.

Untuk mencapai momen itu, dia kerap tidur sore-sore agar bisa bangun dini hari, sekitar pukul 03.00. Saat itulah dia menemukan rentang waktu yang paling sublim, yang merangsangnya menulis karya sastra (puisi, esai, atau cerita) sampai subuh.

Dari senyap yang mengundang permenungan itulah sebagian puisi Sapardi lahir. Kalangan sastra menyebut sastranya sebagai puisi liris, yaitu puisi yang memproses perkembangan pikiran dan perasaan yang subtil. Subtil, karean diksi-nya tajam, halus, dan rumit, tetapi tak kentara.

Simak saja puisi Sapardi berjudul Aku Ingin yang sangat terkenal itu.

Aku ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

Dengan kata yang tak sempat diucapkan

Kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Kembali Kelu

Kabut itu akhirnya menggayut
Mengisi kemelut hati yang takut
Pilu terdiam di setiap sudut
Hingga mimpi pun turut terenggut

Harap itu akhirnya memudar
Serapuh bingkai lilin di gulita malam
Sekelu teriak manusia di rimba sesat
Sebisu alam raya di hamparan jagat

Wahai kekasih,
Sedihku akan hitamnya duka ini
Ratapku akan hancurnya asa ini
Matiku akan kelunya jiwa ini

Kembali… aku kelu di sesat jalan-Mu

Tautan Waktu

Satu taut waktu itu saat ini bagimu
Secercah asa diterbitkan
Segenggam semangat dikepalkan
Seuntai doa dipanjatkan

Kuharap yang terbaik selalu bersamamu

(8 December ‘07, Antara - Cipanas)

Mencinta memang indah

Tak perlu dipikir dengan meluap

Tak perlu diucap dengan meresap

Tanpa itu mencinta tetap lah indah

Merindu memang sendu

Tak perlu disebut dengan kusut

Tak perlu disahut dengan kalut

Tanpa itu merindu tetap lah sendu

Menerima memang agung

Tak perlu dicari ke puncak gunung

Tak perlu diselami di palung laut

Tanpa itu menerima tetap lah agung

Mencinta bermula di jiwa

Merindu bergulat di sukma

Menerima bersiasat di raga

Epilog Kebodohan Cinta

Ra, terima kasih banget atas replynya; Tapi aku justru makin gak tenang” Akhirnya Adhi balas juga email Ira, bukan dengan email, tapi langsung via sms.

Bodoh…. apa yang aku lakukan ya! begitu gumam Adhi dalam hati.

Sejurus kemudian Adhi pun mendengar nada sms delivered. Tapi dia tidak berharap Ira akan membalas karena dia tahu Ira kehilangan dompet kemarin. Di Korn.Net, pagi hari ketika Ira dan dia berkonfrontasi untuk yang ke-sekian kalinya.

Akhirnya Adhi kirim sms kedua.

“Jujur, aku sudah punya pilihan2 itu, tapi hati ini selalu kembali kepadamu. Salahkah?”

Sms delivered, tetap tak ada jawaban, sms ketiga meluncur.

“Ra, kamu adalah wanita yang teramat sangat mudah dicintai oleh orang lain!”

Sms delivered, tetap tak ada jawaban, sms keempat pun melayang.

“Yang aku inginkan adalah kamu meminta kita melanjutkan hubungan kita”

Sms delivered, tetap tak ada jawaban, Adhi pun menyerah karena dia pun tahu bahwa Ira tidak ada pulsa. Semburat kekecewaan menyeruak di benak Adhi karena tak ada balasan dari Ira. Sama sekali seperti tidak ada usaha dia untuk mencoba mencari cara untuk menenangkan hatiku. Akhirnya dengan kesal, Adhi pun kirim sms kelima.

“Kalo kamu pikir kamu siap untuk berpisah? Aku juga! Kalau kamu pikir tidak berharap dengan kelanjutan hubungan kita? Aku juga!”

Huih stupid! Apa yang aku lakukan, Adhi mengomel dalam hati. Kalau saja ada cara untuk meng-cancel sms terakhir itu, akan aku lakukan. Tapi tidak mungkin, bodoh!

Waktu maghrib tiba, dan Adhi pun menyudahi surfingnya. Malas naik ojek, Adhi pun menyusuri balut FISIP mencoba mengira-ngira apa yang sedang Ira pikirkan. Tapi, yang sudah ya sudah. tidak perlu ditangisi, begitu ego Adhi berbicara.

New message from The Soul: Read now? Adhi pun meng-klik lagi tombol navigator K500-nya untuk membaca sms Ira:

“Besok senin aku ke Depok, ngebaca sms-sms kamu bikin aku kangen dan sedih”

Deg, mati aku! gumamnya…. ternyata dia masih memikirkanku. Dan tiba-tiba terdengar sms delivered dari HP-nya. Ahh, ternyata dia belum membaca sms terakhirku. Sejurus kemudian sms baru dari Ira pun meluncur:

“Plz stop dengan sms yang begitu negatif. Apakah kamu tidak sadar kamu sedang membuat luka besar di antara kita. Ayah dan Ibuku bercerai karena cinta yang meluap, tapi penuh ketidakyakinan. Apakah kamu tidak sadar bahwa selain kamu, aku juga kamu sakiti?”

Tanpa sadar airmata pun meleleh di sela-sela pipi Adhi. Ya, dia menangis mengapa mesti dia kirim sms terakhir itu.

“Kamu membuka traumaku Di!”. Sms lain pun terkirim.

Langsung Adhi coba call dia, satu menit tidak diangkat sampai pesan voice mail pun terkirim. Dia ambil nafas panjang dan mencoba lagi, berulang-ulang. Tetap tidak ada jawaban! Akhirnya Adhi pun ke Syalisya coba telepon via Telkom. Tapi, tetap tidak ada jawaban. Sepertinya Ira memang menghindari komunikasi saat ini. Akhirnya dengan langkah gontai dia pun pulang ke kosnya.

Setibanya dari wartel, Adhi pun solat dan berdoa. “Ya Alloh, aku percaya Engkau adalah Maha Penyayang. Tolong selimuti dia dengan balutan hangat-Mu” Kembali tanpa dapat ditahan, air mata itu pun meleleh lagi.